Review Film Young Heart (2024) : Film Eksplorasi Seksual Remaja Khas Eropa
Young Heart (2024) adalah film Belgia terbaru yang disutradarai oleh Anthony Schatteman. Film ini mengangkat tema eksplorasi identitas seksual remaja sesama jenis. Sebuah tema yang tidak umum di Indonesia tapi cukup sering diangkat dalam sinema Eropa. Sebelumnya, saya sudah menonton film Close (2022) yang memiliki tema serupa. Maka, tak heran jika saya sempat berekspektasi bahwa Young Heart akan memiliki bobot emosional yang mendalam seperti Close. Namun ternyata, film ini memilih jalur yang berbeda.
Premis dan Awal yang Menjanjikan
Kisahnya berfokus pada Elias (diperankan oleh Lou Goossens) dan Alexander (diperankan oleh Marius De Saeger). Keduanya masih sangat muda, dan ini merupakan film panjang pertama mereka. Chemistry mereka langsung terbangun dengan baik sejak pertemuan pertama. Babak pertama film ini terasa menjanjikan, dengan pengembangan karakter yang rapi dan aksi-aksi yang cukup masuk akal.
Lou sebagai Elias berhasil menampilkan sosok remaja yang masih bingung dengan perasaannya. Ia tertarik pada Alex, tetapi juga takut akan respons orang lain, terutama keluarganya. Ekspresi kebingungan dan ketegangan ini terasa nyata dan tidak dibuat-buat. Sementara itu, Marius sebagai Alex digambarkan sebagai remaja yang lebih terbuka dan berani mengekspresikan jati dirinya. Meski ini debut layar lebarnya, Marius mampu membawakan karakter Alex dengan cukup kuat dan penuh keyakinan.
Babak Kedua Mulai Goyang, Akhir Terasa Terlalu Ringan
Sayangnya, film ini mulai kehilangan pijakan di babak kedua. Alur cerita mulai terasa kurang fokus, dan ketika masuk ke babak ketiga, konflik yang seharusnya menjadi puncak justru terasa terlalu mudah diselesaikan. Tidak ada kejutan atau ketegangan emosional yang benar-benar membekas. Ending-nya bahkan terasa seperti menonton FTV, semua tampak terlalu ideal dan "selesai begitu saja" yang bagi saya cukup mengecewakan.
Beberapa subplot atau pertanyaan yang muncul juga tidak benar-benar dijawab hingga akhir, sehingga menyisakan ruang kosong dalam narasi. Padahal, dengan tema yang cukup berat dan penuh potensi, film ini seharusnya bisa menggali emosi karakter lebih dalam lagi.
Akting Solid, Terutama dari Lou Goossens
Secara akting, tidak ada keluhan berarti. Seluruh pemeran remaja bermain dengan baik, dengan performa yang terasa natural dan tidak berlebihan. Lou Goossens tampak lebih matang dan berpengalaman, mengingat ia sudah beberapa kali tampil di film pendek dan serial. Marius De Saeger, meskipun ini film debutnya, mampu mencuri perhatian sebagai Alex yang penuh percaya diri.
Visual dan Nuansa Pedesaan yang Mendukung Cerita
Satu hal yang patut diapresiasi adalah latar pedesaan yang diangkat dengan cukup baik. Visualnya sederhana, tapi efektif dalam menciptakan suasana sunyi, damai, dan penuh ruang untuk kontemplasi. Dalam banyak film Eropa, lanskap sering kali menjadi bagian dari cerita itu sendiri dan Young Heart berhasil memanfaatkan ini.
Kesimpulan
Young Heart adalah film yang ringan namun mengangkat tema yang berat. Ini bukan film yang emosional atau konfrontatif, melainkan lebih seperti potret remaja yang sedang belajar memahami diri mereka sendiri. Untuk penonton yang mencari tontonan dengan drama yang intens dan menyayat hati seperti Close, mungkin film ini akan terasa kurang menggigit.
Namun bagi mereka yang ingin film bertema sejenis dengan pendekatan yang lebih lembut, ringan, dan tidak terlalu gelap, Young Heart bisa menjadi pilihan yang layak.
Rating pribadi: 6/10

Komentar
Posting Komentar