Review Film Comme mon fils (2023) : Sebuah Drama "Ayah-Anak" yang Hangat dari Kisah Nyata
Film Comme mon fils (2023) adalah film asal Prancis yang saya tonton baru-baru ini. Film ini cukup menarik perhatian saya karena premisnya yang menyentuh dan penuh emosi, yaitu tentang seorang pencuri yang secara tidak sengaja merawat seorang anak laki-laki berusia 7 tahun setelah ditinggal oleh ibunya. Yang membuat film ini semakin menarik, kisahnya diangkat dari kisah nyata.
Saya pribadi selalu tertarik dengan film yang mengangkat tema hubungan antara pria dewasa dan anak kecil dalam kondisi yang tidak biasa. Sebelumnya, saya pernah menonton A Perfect World (1993) dan Lost In The Sun (2015), dua film dengan tema serupa yang juga sangat saya sukai. Dalam ketiganya, daya tarik utama terletak pada chemistry antara si pria dan si anak, hubungan yang pada akhirnya berkembang menjadi seperti ayah dan anak, meskipun tidak memiliki hubungan darah.
Akting yang Kuat dari Tomer Sisley
Salah satu kekuatan utama Comme mon fils adalah penampilan Tomer Sisley sebagai Victor. Ia berhasil menggambarkan sosok pencuri yang awalnya enggan bertanggung jawab, namun secara perlahan menunjukkan sisi kebapakannya terhadap Charlie, anak yang ia rawat. Transformasi ini terasa natural dan emosional.
Sementara itu, akting Jordan Delassus sebagai Charlie memang terasa kurang dalam beberapa bagian. Namun, mengingat usianya yang masih 8 tahun saat proses syuting, hal ini cukup bisa dimaklumi. Naskah dan pengarahan yang baik berhasil menutupi kekurangannya dengan menciptakan momen-momen emosional yang menyentuh.
Chemistry yang Terbangun Perlahan
Salah satu aspek terbaik dari film ini adalah bagaimana hubungan antara Victor dan Charlie dibangun secara bertahap. Meskipun bagian awal cerita terkesan agak terburu-buru terutama ketika Victor tiba-tiba harus merawat Charlie. Namun seiring berjalannya film, ikatan di antara mereka terasa semakin kuat dan natural.
Script film ini cukup solid. Interaksi mereka tidak terasa dipaksakan, dan dialognya pun tidak terlalu sentimental, justru terasa manusiawi. Hal inilah yang membuat hubungan mereka terasa lebih hidup.
Potensi Drama Emosional yang Kurang Digali
Sayangnya, film ini memiliki potensi dramatis yang besar namun tidak benar-benar dimaksimalkan. Charlie diceritakan memiliki ibu yang mengidap bipolar dan bersikap abusive. Dalam beberapa adegan, Charlie terlihat ketakutan saat Victor marah, bahkan sampai memohon agar tidak dipukul.
Namun, latar belakang ini tidak digali lebih dalam. Di satu sisi, ini terasa seperti kesempatan yang terlewatkan. Namun di sisi lain, saya bisa memahami pendekatan film yang mungkin berusaha tetap setia pada kisah nyata. Mungkin juga karena Victor sebagai karakter tidak memiliki kemampuan (atau keberanian) untuk menyelami trauma masa lalu Charlie, terutama karena usia Charlie yang masih sangat muda.
Tensi Polisi yang Kurang Menggigit
Sebagai buronan, Victor dan Charlie harus hidup berpindah-pindah untuk menghindari polisi. Namun, upaya pengejaran dari pihak kepolisian terasa kurang meyakinkan. Ada satu momen di mana mereka menetap cukup lama di satu tempat bahkan hingga lebih dari tiga bulan, namun tetap tidak tertangkap.
Saya memahami bahwa ini dilakukan untuk membangun hubungan antara dua karakter utama. Namun dari sisi plot, hal ini membuat cerita terasa sedikit dragging. Ketegangan yang seharusnya hadir dari unsur pelarian justru kurang terasa.
Ending yang Emosional dan Manis
Salah satu hal yang paling membekas bagi saya dari film ini adalah akhir ceritanya. Penutup film ini disajikan dengan cara yang sederhana namun sangat menyentuh tanpa perlu dialog berlebihan, momen itu mampu merangkum seluruh perjalanan emosional antara dua karakter utamanya.
Akhir cerita menjadi semacam klimaks emosional dari hubungan yang telah mereka bangun sepanjang film. Hubungan yang tidak dimulai dengan cinta, tapi tumbuh dari waktu, kebersamaan, dan rasa saling membutuhkan. Momen terakhir ini memberikan kesan hangat dan manusiawi yang bertahan lama dalam ingatan saya.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, Comme mon fils adalah film ringan yang menyenangkan, namun tetap berhasil menyisipkan momen-momen emosional yang menghangatkan hati. Bukan film yang sempurna, namun cukup berhasil dalam menyampaikan pesan tentang kasih sayang dan keterikatan yang tumbuh dalam keadaan tak terduga.
Bagi kamu yang menyukai film dengan tema hubungan ayah-anak yang tumbuh bukan karena darah, melainkan karena kebersamaan dan kepedulian, film ini bisa jadi pilihan yang pas.
Rating pribadi: 7/10

Komentar
Posting Komentar